Saat Gelar Liga Inggris City Pep Guardiola Dirampas, Apa Sebabnya?

Liga Inggris sebagai liga nomor satu dunia tak mau dianggap menjadi liga petani yang juaranya hanya itu-itu saja. Pasalnya kita tahu sejak era Manchester City dipegang Pep Guardiola, kok kayaknya yang juara Liga Inggris hanya City lagi, City lagi.

Emangnya se-super itukah mereka? Faktanya pernah juga kok satu musim dimana gelar juara Pep itu dirampas oleh klub lain. Nah bagaimana cerita selengkapnya, dan apa pula penyebabnya?

Musim 2019/20

Ya, musim itu adalah musim 2019/20. Musim keempat Pep Guardiola memegang The Citizens. Sebelumnya Pep sudah meraih gelar Liga Inggris secara back to back dari musim 2017/18 dan 2018/19. Namun nahas, hattrick gelarnya di Liga Inggris tak mampu terwujud.

City di musim itu harus rela menyerahkan gelar juara Liga Inggris pada Liverpool. Mereka hanya menjadi runner-up di bawah anak asuh Klopp dengan mengoleksi 81 poin. Selisihnya jauh oleh The Reds yakni 18 poin.

Padahal di awal musim mereka sudah memperoleh gelar Community Shield lho. Bahkan tim yang dikalahkan ketika itu yakni Liverpool lewat adu penalti. Apa mungkin City ini kena kutukan juara Community Shield yang tak bisa juara Liga Inggris?

Kehilangan Vincent Kompany

Tak hanya kutukan, ada juga beberapa sebab lain yang membuat gelar Liga Inggris City raib. Salah satunya yakni kehilangan kapten sekaligus ikon klub Vincent Kompany. Legenda City tersebut berpisah dan memilih pensiun sebagai pemain musim itu. Tak dipungkiri beberapa kesuksesan City salah satunya berkat mental kepemimpinan seorang Kompany.

Kekokohan lini belakang City juga salah satunya berkat komando bek Belgia tersebut. Dengan kehilangan Kompany, otomatis Pep harus segera bergerak mencari cara lain guna tetap menjamin pertahanan City tetap kokoh.

Tak Beli Bek Tengah

Tapi apa yang dilakukan? Musim tersebut Pep ternyata tak mendatangkan bek pengganti sama sekali. Kehilangan Kompany tidak ditambal dengan bek baru. Incaran mereka musim itu Harry Maguire ternyata lebih memilih MU ketimbang City.

Pep nampaknya yakin dengan stok lini pertahanan yang ada. Saat itu stok bek tengah City hanya ada John Stones yang angin-anginan performanya, Nicolas Otamendi yang sudah melambat, Eric Garcia yang masih bau kencur, maupun Aymeric Laporte yang rentan cedera.

Benar kejadian, keempat bek tersisa di musim itu semuanya tak konsisten penampilannya. Bahkan nih, Pep sempat menaruh beberapa kali seorang gelandang bertahan yakni Fernandinho menjadi bek tengah.

Bayangkan, menurut catatan Transfermarkt Fernandinho ini jadi bek tengah di musim itu sebanyak 37 kali. Bukan apa-apa, kalau solid sih tak masalah. Tapi dengan usia Fernandinho yang sudah uzur dan makin melambat, tentu berpengaruh pada rapuhnya bek tengah City.

Rapuhnya bek City terpampang nyata dari segi hasil. Mereka di musim itu 9 kali menderita kekalahan dan kebobolan 35 kali. Bandingkan dengan musim sebelumnya ketika masih ada Kompany. City hanya kebobolan 23 gol, dan menderita kekalahan sebanyak 4 kali saja di musim 2018/19.

Tak Melakukan Penyegaran Di Lini Serang

Sudah rapuh di lini belakang, ternyata Pep di musim tersebut tak juga melakukan penyegaran di lini serang mereka. Tak ada gelandang serang, sayap serang, maupun striker baru yang dibeli City musim itu. Praktis hanya mengandalkan serdadu di musim sebelumnya.

Polanya hampir mudah ditebak, ada De Bruyne dan David Silva di gelandang serang, sayap mereka di kanan ada Sterling, di kiri ada Sane, dan sebagai striker ada Aguero. Sebagai pelapis ada pemain macam Foden, Gundogan, Mahrez maupun Gabriel Jesus.

Secara hasil, nyatanya musim tersebut kemenangan City hanya 26 kali. Terbukti juga di beberapa pertandingan seringkali mereka terkena deadlock dan susah menang.

Kehilangan Poin Lawan Tim Papan Bawah

Hal itu kelihatan saat City kalah melawan klub-klub yang melakukan Low Block. Apalagi tim-tim di Liga Inggris mayoritas sudah hafal banget dengan pola penyerangan City. Ditambah juru gedornya juga tak berubah alias hanya itu-itu saja.

Apesnya dikala juru gedor City asik menyerang, beberapa kali City dihukum oleh tim-tim papan bawah yang mengandalkan serangan balik. Tercatat City di musim tersebut sempat kalah dua kali melawan Wolves, sekali melawan tim promosi Norwich City, dan sekali melawan Southampton.

Melawan Wolves mereka dua kali kalah akibat serangan balik lewat Adama Traore maupun Raul Jimenez. Kalah lawan Norwich juga berkat serangan balik dari Teemu Pukki dan Todd Cantwell. Semantara kalah lawan Soton berkat blunder lini belakang mereka yang terbukti rapuh.

Kena Mental Kalah Oleh MU

Selain kalah melawan tim papan bawah, yang membuat City tak juara musim itu adalah dua kali dipecundangi rival abadi mereka MU. Ya, bagaimanapun MU polesan Ole turut andil menjegal anak asuh Pep meraih juara dengan kemenangan dua kali.

Bagi City, hasil tersebut tentu menjadi pukulan mental. Performa MU di musim pertama Ole resmi menjadi pelatih utama MU, tak dipungkiri sempat menjadi sorotan. Mereka solid dan bahkan bisa finish di urutan 3 klasemen.

Bertemu City di Etihad pasukan Ole bermain pragmatis dan mengandalkan serangan balik. Hasilnya sempurna, MU mampu menang 1-2. Di laga kedua lewat permainan pragmatis bahkan dengan memasang lima bek sekaligus United berhasil menekuk City 2-0.

Dipecundangi Jose Mourinho

Tak hanya di pecundangi MU dan Ole, Pep Guardiola di musim itu juga dipecundangi mantan rivalnya dulu di Real Madrid, Jose Mourinho. The Special One ketika itu masih menukangi Spurs. Bertemu dua kali di Liga Inggris, The Lilywhites yang pragmatis bersama Mourinho mampu menjinakan pasukan Pep.

Yang pertama ketika laga dihelat di Etihad pada pekan kedua musim tersebut Mourinho mampu menahan imbang 2-2. Sedangkan pertemuan kedua di Tottenham Hotspur Stadium anak asuh Mourinho sukses membuat City tak berkutik dengan kemenangan 2-0.

Faktor Liverpool Yang Konsisten

Sudah kena mental kalah dua kali melawan MU, lalu tak bisa menang atas timnya Mourinho, tentu membuat mental anak asuh Pep luntur. Nah beberapa kelengahan City tersebut ternyata mampu dimanfaatkan pesaingnya yakni Liverpool.

Pasukan Klopp benar-benar serius merebut gelar Liga Inggris musim itu. Kapan lagi penantian gelar selama 30 tahun itu akan diakhiri? Setelah menjuarai Liga Champions di musim sebelumnya, praktis fokus The Reds di musim tersebut adalah merampas gelar Liga Inggris dari City.

Benar saja The Reds mampu meraup total 99 poin dan akhirnya menjadi juara. Mereka tak lagi tersandung beberapa masalah musim itu, baik itu kalah melawan tim bawah, maupun tim papan atas. Mereka bahkan hanya kalah 3 kali dan seri 3 kali saja musim itu.

Ya, kesimpulannya ternyata disamping beberapa kelemahan City di musim tersebut, juga dipengaruhi oleh pesaingnya yang konsisten memanfaatkan kelemahan tersebut. Namun, pertanyaannya sekarang, kapan lagi kejadian tersebut akan terulang kembali? Mungkin hanya waktu yang akan menjawabnya.

Sumber Referensi : independent, espn, mancitysquare, manchestereveningnews, mancity.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *