Mohamed Salah, Kecaman, dan Kegagalannya di Timnas Mesir

Tatapan kosong Mohamed Salah kala duduk di bench Mesir di Piala Afrika menggambarkan betapa sedihnya bintang Liverpool tersebut.The Egyptian King itu harus mendekap cedera, dan hanya bisa termenung menyaksikan temannya berjuang membela negaranya.

Betapa campur aduknya perasaan Mohamed Salah saat itu. Padahal ia sangat ingin sekali mempersembahkan trofi pertama bagi negaranya. Namun di saat matanya berkaca-kaca akibat cedera yang dialami, ia justru mendapat kecaman oleh sebagian publik Mesir.

Jasa Mohamed Salah Di Mesir

Mohamed Salah tak dipungkiri adalah bintang langka Mesir yang sudah meraup beberapa gelar di level Eropa. Jarang-jarang ada pesepakbola Mesir yang prestasinya sementereng dia. Publik Mesir harusnya bangga punya pesepakbola sepertinya.

Di Negeri Firaun, ia diagungkan seperti dewa berkat gol-golnya sejak debut pertama kali pada September 2011. Salah waktu itu masih berusia 19 tahun dan masih menjadi bagian klub Mesir, El Mokawloon.

Namun tak disangka, hingga kini sudah 96 caps yang ia jalani. Pemain kelahiran desa miskin Nagrig ini, bahkan telah torehkan 54 gol serta 32 assist bagi The Pharaohs. Torehan tersebut tentu membanggakan, namun ada satu yang kurang. Ya, itu adalah trofi.

Selama perjalanan The Egyptian King di level timnas, ternyata belum ada satu pun trofi hinggap ke dalam pangkuannya. Terakhir, ia hampir saja meraihnya di Piala Afrika 2017 dan 2022. Namun di final 2017, impian Salah tersebut sirna dihancurkan oleh Kamerun. Lalu di final 2022, ia digagalkan oleh negaranya Sadio Mane, Senegal

Padahal sebelum Mohamed Salah masuk timnas, Mesir sudah lebih dulu berjaya dengan tiga kali beruntun menjadi kampiun Piala Afrika, dari tahun 2006 hingga 2010. Itulah makanya, sehebat-hebatnya Mohamed Salah, ia masih dituntut oleh publik Mesir untuk mengulangi kisah sukses mereka hattrick juara Piala Afrika.

Cedera

Tuntutan tersebut tentu jadi beban tersendiri bagi Mohamed Salah. Termasuk di ajang Piala Afrika 2023 ini. Namun peluang Salah untuk membayar tuntutan trofi bagi negaranya tersebut sebenarnya sangat terbuka di ajang ini. Pemain berusia 31 tahun itu berangkat ke Pantai Gading dengan optimisme tinggi.

Ditambah, posisi Timnas Mesir di Piala Afrika 2023 yang jadi unggulan juara. Karena kita tahu, terakhir kali The Pharaohs adalah finalis di ajang ini. Melihat potensi skuad yang dimiliki pelatih asal Portugal, Rui Vitoria juga tergolong mumpuni untuk bisa meraih juara. Ditambah kondisi kapten mereka Mohamed Salah yang sedang gacor di Liverpool. Total 18 gol sudah Salah cetak bersama The Reds.

Namun ketika baru memasuki laga awal, kondisi jadi berubah. Timnas Mesir yang diprediksi akan menang mudah melawan tim seperti Mozambik, Ghana, dan Tanjung Verde di babak grup, malah kehilangan tajinya. Mohamed Salah terkurung dan hanya bisa cetak satu gol di laga pertama melawan tim antah berantah Mozambik. Itupun lewat tendangan penalti di menit akhir babak kedua. The Pharaohs juga hanya meraih hasil seri 2-2.

Malapetaka pun tiba di laga kedua. Pada laga melawan Ghana, publik Mesir dibuat was-was karena Mohamed Salah terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Sang kapten itu pun menyerah, dan akhirnya ditarik keluar lapangan karena cedera.

Rakyat Mesir berharap cederanya itu tak terlalu parah dan bisa sembuh tepat waktu. Pasalnya Mesir masih sangat membutuhkan tuahnya. Apalagi di laga melawan Ghana hasilnya juga seri. Artinya, Mesir masih harus berjuang di laga berikutnya melawan Tanjung Verde untuk bisa lolos ke babak 16 besar.

Sayang seribu sayang, Mohamed Salah lalu didiagnosa cedera hamstring parah yang membuatnya tak bisa tampil di laga-laga berikutnya. Mohamed Salah tentu kecewa berat. Menurut tim medis dan agennya, Rumail Abbas, Salah diprediksi akan absen kemungkinan sampai dua atau tiga minggu.

Terbang Ke Liverpool

Untung saja Mesir masih bisa lolos ke 16 besar Piala Afrika, setelah meraih hasil seri melawan Tanjung Verde. Ya, meski masih larut dalam kekecewaan, raut wajah pemain berambut kribo itu pun kembali sumringah. Salah bangga dengan rekan-rekannya karena telah membawa Mesir lolos.

Namun di tengah keberhasilan Mesir lolos ke 16 besar, tersiar kabar bahwa Salah segera mengambil sikap atas cederanya ini. Tentu Salah tak ingin larut terlalu lama dalam penderitaan cederanya.

Awalnya muncul ide dari klubnya, Liverpool yang ingin membawanya pulang ke Inggris agar dirawat intensif. Liverpool sendiri juga tentu ketar-ketir dengan kondisi sumber golnya itu. Takutnya, kalau salah penanganan bisa-bisa jadi fatal bagi kariernya. Apalagi Salah masih sangat dibutuhkan untuk menggendong skuad The Reds agar bisa istiqomah berada di peringkat satu Liga Inggris.

Namun kalau menurut pelatih, Rui Vitoria penanganan medis yang diberikan tim medis Mesir sudah lebih dari cukup. Artinya, Salah seharusnya tidak perlu kembali ke Liverpool.

Akan tetapi, akhirnya Salah lebih mau mengikuti saran dari klub yang menggajinya, Liverpool untuk terbang ke Inggris guna masa penyembuhan yang lebih intensif. Dengan sangat terpaksa, Mohamed Salah meninggalkan rekan-rekannya di Pantai Gading. Sikap tersebut ternyata membuat sebagian publik Mesir kecewa kepadanya.

Kecaman Publik Mesir

Pelatih Mesir, Rui Vitoria dan legenda Timnas Mesir, Ahmed Hassan sangat menyayangkan sikap Mohamed Salah dan Liverpool tersebut. Mungkin, alangkah baiknya jika Mohamed Salah tetap tinggal hingga Timnas Mesir tuntas jalani semua laga di Piala Afrika. Ya, bagaimanapun Mohamed Salah adalah sosok kapten yang juga dibutuhkan wejangan-wejangannya bagi tim.

Dengan sikapnya tersebut, Mohamed Salah akhirnya dicap lebih mementingkan klub daripada negaranya. Bahkan yang lebih parah, ada sebagian publik yang mencurigai bahwa Salah hanya pura-pura cedera parah agar bisa fit ketika membela Liverpool.

Janji Salah dan Liverpool

Namun asisten pelatih Liverpool, Pep Lijnders membantahnya. Ia berdalih bahwa keputusan membawa Mohamed Salah pulang sudah melalui kesepakatan bersama antara tim medis Mesir dan Liverpool.

Justru Pep Lijnders malah ingin Mohamed Salah sembuh tepat waktu. Agar kalau penyembuhan berjalan lancar, Mohamed Salah diprediksi akan kembali merumput di laga final Piala Afrika bulan Februari. Pertanyaannya, apakah The Pharaohs tanpa dampingan Mohamed Salah bisa melaju lagi hingga partai puncak?

Mohamed Salah terbang ke Inggris dengan sebuah janji agar sembuh lebih cepat. Ingat juga pesan Salah, Mesir adalah satu tim, bukan hanya ia seorang. Mesir menurut Salah mampu tampil apik secara tim. Salah menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri ketika laga melawan Tanjung Verde.

Kini apa boleh buat, Mohamed Salah sudah kembali ke Liverpool. Bayang-bayangnya juga sudah tak lagi mendampingi skuad Mesir di Piala Afrika. Namun Salah tetap berharap, agar publik Mesir menyadari kondisinya, dan tak menangisi kepergiannya.

Bagi publik mesir, harusnya mereka tetap mendoakan kesembuhan kaptennya tersebut tepat waktu. Sembari berdoa juga agar Mesir tetap melaju hingga final Piala Afrika. Dengan begitu, Salah bisa menepati janjinya kembali ke Mesir, sekaligus mewujudkan mimpinya merah trofi pertama bagi negara yang dicintainya.

Sumber Referensi : theathletic, forbes, eurosport, transfermarkt, foxsports, theguardian, goal, liverpool.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *