Lorenzo Pellegrini Melawan Penyakit Jantung Demi AS Roma

Lorenzo Pellegrini tak menyangka akan sampai sejauh ini membela AS Roma. Bahkan tak dinyana, ia sampai di dua final bersama klub Serigala Ibukota. Yang pertama sudah ia tuntaskan. Berikutnya, Pellegrini punya misi untuk membawa Serigala Roma mengaum sekali lagi di kompetisi Eropa.

Sampai di titik ini adalah berkah tak terkira bagi Pellegrini. Siapa yang tahu, ia berhasil selamat dari maut. Nasibnya yang segaris lagi bertemu ajal, batal, dan ia kembali melanjutkan kiprahnya di AS Roma. Tim yang sudah sejak kecil ia bela dan sukai. AS Roma sudah telanjur melekat dalam diri Pellegrini.

Pellegrini Fans Roma

Hubungan Pellegrini dan AS Roma sangat dekat. Keterkaitan itu terjalin sebab keluarga Pellegrini memang penggemar AS Roma. Karena itulah setiap kali Roma bertanding di Stadion Olimpico, Pellegrini selalu diajak nonton. Ia pun menjadi penggemar AS Roma.

Saat usianya tiga tahun, Pellegrini bahkan sudah sesumbar dengan kawan-kawannya. Bahwa ia akan menjadi pemain AS Roma. Namun, waktu itu, di usianya yang masih sangat kecil, Pellegrini jelas belum menyadari, bahwa tidak mudah menjadi pemain sepak bola.

Butuh perjuangan, kemampuan fisik, kualitas bermain, dan tentu saja yang paling penting uang. Sayangnya, Pellegrini tidak berasal dari keluarga yang berada. Mereka jauh dari kekayaan. Tapi, ayah Pellegrini tak putus asa. Ia melihat tekad kuat dari sang anak. Akhirnya, ketika tabungannya sudah cukup, Pellegrini disekolahkan di sebuah sekolah sepak bola, yaitu Almas Roma.

Di waktu luang, ayah Pellegrini, Tonino menyempatkan diri untuk melihat perkembangan sang anak. Dalam kurun waktu tertentu, ia melihat Pellegrini mulai menunjukkan perkembangan. Hingga sang anak mendapat kesempatan untuk berlatih di sekolah sepak bola milik Francesco Totti. Di sanalah wangi kualitas Pellegrini tercium. Setelah trial, ia akhirnya bergabung ke akademi AS Roma.

Masalah Jantung

Pellegrini hidup seperti pemain-pemain lainnya di akademi AS Roma. Lambat laun, bakatnya mulai berkembang. Pencari bakat AS Roma yang menemukan Pellegrini, Mirko Manfre mengatakan, Pellegrini tinggi dan punya teknik di atas rata-rata. Pellegrini menjadi sangat berbahaya sebagai seorang striker, karena sangat sulit mencari penyerang seperti itu.

Namun, dalam perkembangannya, Pellegrini justru menjadi seorang gelandang yang hebat. Pada usia 16 tahun, Pellegrini mengikuti seleksi untuk menjadi bagian AS Roma U17. Kala itu, AS Roma U17 merasa perlu untuk memasukkan Pellegrini. Lagi pula, sebelum dimulainya musim 2012/13, pelatih Zdenek Zeman sudah berjanji akan memberinya kesempatan bermain.

Semua berjalan seperti apa yang diinginkan. Pellegrini sangat antusias mengikuti tes, termasuk tes medis. Awalnya, semua baik-baik saja. Para pemuda yang dites tampak energik dan sehat. Namun, Pellegrini merasa ada yang tidak beres di dadanya. Pellegrini merasakan tubuhnya sangat mudah lelah. Untuk menaiki tangga saja, ia ngos-ngosan.

Itu sama sekali tidak normal. Dan sebagai pesepakbola, jika hal itu terjadi, bisa membahayakan kariernya. Benar saja. Ketika diperiksa dokter, terlalu banyak detak jantungnya yang tidak teratur. Ia bertanya ke dokternya, apa yang harus dilakukan? Sang dokter menjawab, Pellegrini harus istirahat. Ia tidak boleh bermain sepak bola selama enam sampai delapan bulan.

Pellegrini tersentak. Hatinya seperti tertusuk belati. Bagaimana mungkin tidak bermain sepak bola? Bagaimana mungkin ia rela istirahat saat kesempatan membela AS Roma ada di depan mata? Tidak ada berlari, tidak ada sepak bola, tidak ada latihan. Tapi bagi Pellegrini, yang menyedihkan adalah tidak ada AS Roma.

Terapi Mandiri

Namun, apa boleh buat, jantungnya sedang tidak bersahabat. Daripada tidak membela AS Roma selamanya, Pellegrini berpikir lebih baik untuk menyembuhkan diri. Ia memulai terapi mandiri. Pellegrini bercerita, ia seperti dokter bagi dirinya sendiri. Hampir setiap malam, selama beberapa bulan, pemain kelahiran Roma itu merasakan ketukan di dadanya.

Ia mencoba merasakan ketukan yang tidak teratur itu hadir. Lalu, dia akan duduk di tempat tidur dan memastikan semuanya hening, termasuk ketukan tak teratur di dadanya. Pellegrini memperbanyak istirahat sambil berharap dan berdoa agar detak jantungnya kembali ke sedia kala.

Suatu hari, ia merasakan detak jantungnya kembali normal. Penyakit aritmianya sudah berhenti. Ia pergi ke dokter lagi, memeriksanya. Dan benar, ia tak lagi lelah ketika menaiki tangga. Waktu yang tepat untuk kembali ke lapangan. Pellegrini termotivasi dan terus berlatih setelah sembuh dari penyakit jantungnya.

Habis Jantung Terbitlah Cedera

Sungguh malang nasib Pellegrini. Saat melakoni laga pertamanya di tim muda AS Roma, Pellegrini justru harus cedera. Tulang metatarsal kelimanya patah. Ia keluar dalam enam minggu. Akan tetapi, sejujurnya ia tidak terlalu mencemaskan hal itu. Menurutnya, cedera itu jauh lebih mudah ditangani daripada aritmia.

Lagi pula, dalam menjalani masa istirahat, ia bertemu Veronica. Perempuan yang kelak menjadi istrinya. Setelah sembuh dari cedera, ia pun kembali ke lapangan. Pellegrini bermain untuk tim Roma junior dengan memainkan tiga pertandingan setiap akhir pekan.

Dipinjamkan ke Sassuolo dan Kembali

Ironisnya, setelah itu, ia justru frustrasi. Alih-alih bermain untuk tim utama AS Roma, Pellegrini malah dijual ke Sassuolo pada tahun 2015. Di dalam penjualannya itu ada klausul buy back bagi AS Roma. Ya, meski begitu, Pellegrini tak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya karena harus dilepas klub yang sudah 10 tahun ia bela.

Masa-masa menjadi pemain Sassuolo justru dilakoni dengan baik oleh Pellegrini. Dan itu menjadi titik balik karier Pellegrini. Di Sassuolo ia bermain selama 54 laga dengan  mengemas 11 gol dan tujuh asis. Performa apiknya itu bikin Giallorossi mengaktifkan klausul buy back-nya.

Pellegrini pun pulang ke AS Roma pada 2017. Pada musim 2017/18, sekembalinya ke AS Roma, Pellegrini mencatat 1.810 menit bermain. Itu menjadikannya gelandang keempat dengan menit bermain terbanyak kala itu, di bawah Radja Nainggolan (2.620), Kevin Strootman (2.258), dan Daniele de Rossi (1.835).

Pada musim berikutnya jumlah menit bermainnya meningkat menjadi 1.827 menit. Lebih banyak ketiga di bawah Steven Nzonzi (2.593) dan Bryan Cristante (2.420). Ia membawa dimensi baru buat Giallorossi. Perannya adalah mengkreasikan serangan dan mengalirkan bola ke penyerang. Peran yang ternyata belum pernah ia emban sebelumnya, namun berhasil dilakukannya.

Tak Tergantikan di Bawah Jose Mourinho

Pellegrini berhasil menjaga konsistensi, hingga Jose Mourinho datang ke Olimpico pada 2021. Ia menjadi kapten AS Roma, sesuatu yang diimpikan. Sebab dulu ia ingin menjadi seperti Francesco Totti. Di tangan The Special One, Pellegrini tak tergantikan. Pellegrini selalu menjadi pilihan utama.

Mourinho berkali-kali mengubah taktiknya. Merotasi pemainnya. Namun, ia sering menolak untuk merotasi Pellegrini. Kurangnya alternatif membuat sang kapten tetap turun. Kepemimpinan Pellegrini, terutama di ruang ganti sangatlah penting. Selama dilatih Mourinho, Pellegrini turun dalam 86 laga, mengemas 22 gol dan 17 asis di semua kompetisi. 

Perjuangan Pellegrini melawan penyakit jantung ditambah cedera metatarsal menunjukkan betapa besar cintanya pada AS Roma. Mengingatkan kita pada sosok Francesco Totti. Pellegrini memang belum bisa menyamai Totti. Tapi suatu saat nanti, cepat atau lambat, Pellegrini akan menjadi Pangeran Roma berikutnya.

Sumber: ThePlayerTribune, ASRoma1, Romapress, TheFlanker, ASRoma2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *