Dihantui Trauma Musim Lalu! Man United Selalu Ampas di Awal Musim Premier League?

Tampaknya main ampas di pertandingan pembuka Liga masih jadi tema utama Manchester United asuhan Erik Ten Hag. Penampilan mengecewakan di dua pertandingan pembuka ini mengingatkan kita pada laga pembuka di musim lalu. Dimana anak asuh Erik Ten Hag menelan dua kekalahan beruntun. Pertama lawan Brighton kemudian Brentford.

Well, di musim ini United memang mengemas 3 poin lebih banyak dibanding laga pembuka musim kemarin. Tapi tetap saja tidak bisa dibantah kalau setan merah tampil sangat kacau. United terlihat tak memiliki intensitas dalam menyerang maupun bertahan.

Mereka jadi bulan-bulanan Wolverhampton di kandang. United menerima 23 tembakan. Itu jumlah terbanyak di laga Premier League yang United terima di Old Trafford sejak tahun 2005. Beruntung Wolves adalah tim yang paling sering gagal mencetak gol di Premier League sejak musim 2020/21.

Kemudian kalah memalukan 2-0 saat bertandang ke markas Tottenham. Padahal di sepanjang pramusim, Spurs sama sekali bukan tim yang diunggulkan. Mereka dalam masa transisi pelatih baru dan juga ditinggal Harry Kane.

Dua penampilan ini patut untuk menimbulkan kekhawatiran. Lalu apa alasan dibalik permainan buruk mereka di awal musim ini? Dan bagaimana cara mengatasinya agar tak terulang lagi?

Masalah Stamina Berkat Jadwal Pramusim Yang Padat

Masalah stamina memang merupakan masalah yang klise. Meskipun begitu, bukan berarti bisa hilang dari daftar sumber masalah. Manchester United membawa para pemainnya menjalani delapan pertandingan dalam waktu 25 hari.

Itu dilakukan di lima negara. Yaitu Inggris, Norwegia, Irlandia, Skotlandia, dan Amerika Serikat. Jadwal pramusim MU lebih ketat daripada tim lain. sebut saja Chelsea, Liverpool, Arsenal, dan Manchester City.

Pertandingan pramusim memang baik untuk persiapan tim. Tapi jika dilakukan terlalu banyak, hasilnya akan jauh merugikan. Setelah menyelesaikan tur pramusim di Amerika Serikat, Christian Eriksen mengaku jadwal padat ini membuat para pemain kelelahan.

“Ada banyak perjalanan kesana kemari dan perubahan jadwal. Selain itu juga ada perubahan zona waktu dan kondisi lapangan. Ini sangat melelahkan tapi beginilah pramusim.” Ucapnya dikutip dari BBC.

Eriksen kemudian menambahkan, akan lebih mudah memasuki pertandingan dengan keadaan yang bugar. Terlalu banyak melakukan perjalanan jauh tidak membantu para pemain. Pada akhirnya mereka senang karena bisa pulang.

“Memasuki pertandingan akan lebih mudah dengan kebugaran yang lebih baik. Bermain di banyak tempat berbeda membutuhkan adaptasi. Tetapi kami semua senang akhirnya bisa pulang.”

Belum lagi fakta kalau United sudah memainkan banyak pertandingan di musim sebelumnya. Terutama para pemain kunci yang juga berpartisipasi di Piala Dunia 2022. Musim lalu, beberapa pemain penting United bermain lebih dari 3.500 menit di semua kompetisi.

Lini Serang United Yang Masih Loyo

Faktor kelelahan ini terlihat jelas jadi masalah ketika United tak memiliki intensitas bermain di laga pembuka kemarin. Diperburuk juga dengan pemain yang tidak kompeten di beberapa lini United.

Saat bermain lawan Wolverhampton, terungkap bobroknya lini tengah setan merah. Saat kalah lawan Spurs, kelemahan itu kembali terekspos. Dan hasilnya lebih buruk karena Spurs bisa melakukan tekanan yang lebih bagus daripada Wolves.

Di dua pertandingan itu pula, terlihat lini serang Manchester United yang sangat lemah. Setan merah kekurangan daya gedor di kedua sayap. Begitu pula kurangnya kontribusi di penyerang tengah.

Kebugaran Anthony Martial masih jadi masalah sehingga ia tidak bisa diandalkan. Rasmus Hojlund yang baru didatangkan juga masih dalam masa penyembuhan cedera punggung. Ini membuat Rashford harus bermain sebagai penyerang tengah. Sedangkan sayap kiri diisi oleh pemain muda Alejandro Garnacho.

Sudah jadi rahasia umum kalau Rashford tidak bisa berkontribusi banyak saat bermain sebagai ujung tombak. Saat bermain sebagai penyerang tengah, kemampuan mengancam Rashford di depan gawang menurun drastis. Ia juga tidak bisa melakukan pressing saat kehilangan bola.

Dibawah asuhan Erik Ten Hag, United memang mengalami kenaikan performa yang baik. Terutama dalam hal menciptakan peluang. Itu bisa dilihat di babak pertama laga lawan Tottenham. Mereka menciptakan rekor tembakan di babak pertama terbanyak pada laga tandang sejak 2008. Tapi tetap saja kurang meyakinkan di depan gawang.

Erik Ten Hag punya rencana sendiri untuk mengatasi kelemahan itu. Ia menginginkan Manchester United jadi tim yang melakukan transisi permainan terbaik di dunia. Artinya mengandalkan counter pressing dan serangang balik yang cepat. Tapi sistem ini memerlukan pressing man marking yang ketat. Dan lawan bisa dengan mudah mengatasinya dengan bermain secara melebar.

Kurangnya Komunikasi di Lapangan

Komunikasi dan koordinasi di lapangan juga jadi masalah yang tak bisa dibiarkan begitu saja. Ini membuat skuad United rentan terhadap serangan. Membuat bentuk pertahanan jadi kacau saat lawan memutuskan untuk menyerang.

Pemain baru United, Mason Mount dibeli sebagai gelandang nomor 8. Artinya ia harus bisa bergerak maju kedepan. Tapi di saat bersamaan juga turun ke belakang untuk membantu pertahanan jika keadaan berubah. Tapi nyatanya Mount bermain terlalu maju. Ia terlalu sibuk di sepertiga lapangan depan sampai kadang lupa untuk bertahan.

Ini membuat jarak yang sangat lebar dengan Casemiro di belakang. Casemiro jadi punya ruang yang sangat luas untuk di-cover saat tim bermain dengan formasi 4-1-4-1. Jarak yang jauh juga membuat Casemiro jadi kesulitan berkomunikasi dengan gelandang lainnya. Keputusan antara menunggu lawan datang atau langsung melakukan tackle jadi keputusannya sendiri. Padahal tiga gelandang yang MU miliki harusnya bisa bekerjasama dengan baik.

Sistem yang Ten Hag inginkan adalah tim transisi. Artinya sebuah tim bisa melakukan transisi dari menyerang, ke bertahan, dan kembali menyerang dengan cepat dan tanpa masalah apapun. Tapi sejauh ini para pemain masih belum bisa menerjemahkan keinginan bosnya itu di lapangan.

Apakah ini bisa dimaklumi? Mengingat banyak pemain baru dan ini baru musim kedua Ten Hag di Inggris. Sepertinya itu jadi masalah internal yang sulit dijawab. Tapi di pertandingan melawan Spurs, terlihat the lilywhites tampil lebih bagus. Spurs terlihat tetap bisa bermain sesuai keinginan pelatih baru mereka. Padahal Spurs bersama Ange Postecoglou baru memainkan dua laga kompetitif pertama mereka di Premier League.

Ten Hag Harus Putar Otak Cari Solusi

Musim kemarin saat United mendapatkan hasil buruk di dua laga pembuka Premier League, Ten Hag memberikan hukuman. Hukuman tersebut berupa lari sejauh 14 kilometer saat latihan. Tapi hukuman seperti itu akan memperburuk keadaan sekarang melihat para pemain yang sudah kelelahan.

Musim kemarin juga Ten Hag membeli pemain baru sebagai solusi. Mereka adalah Casemiro dan Antony. Pembelian Casemiro jelas meningkatkan kualitas lini tengah United saat itu. Sedangkan Antony, kontribusinya masih bisa diperdebatkan.

Jadi membeli pemain baru mungkin bisa jadi solusi lagi untuk Ten Hag. Khususnya di lini serang yang memang sejak dulu sudah tumpul. Sejauh ini para penggemar setan merah bersorak karena berhasil mendatangkan Hojlund seolah ia selevel Haaland.

Namun kelihatannya semua rencana lini serang United saat ini bergantung pada Hojlund. Jangan lupa kalau Hojlund masih berusia 20 tahun dan dari Serie A. Saat ini ia juga masih cedera dan diperkirakan baru bisa bermain bulan September. United juga masih berekspektasi akan kedatangan Sofyan Amrabat dari Fiorentina.

Tapi kembali lagi, apakah membeli pemain baru benar-benar jadi solusi permanen untuk MU? Mengingat Ten Hag sampai sekarang telah menghabiskan lebih dari 330 juta pounds untuk belanja pemain. Lalu harus habis berapa juta lagi sampai United bisa mengalahkan dominasi Manchester City di Premier League?

Sumber referensi: Athletic, Sky, Daily, Goal, BBC

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *